Jumat, 22 Februari 2008

D U R I




Sandra masuk ke dalam toko bunga dengan langkah berat.
Ia sedang mengalami hal berat dalam kehidupannya. Ketika ia
sedang hamil empat bulan pada kehamilannya yang kedua, sebuah
kecelakaan mobil merenggut nyawa janinnya.

Pada minggu "Thanksgiving" ini, ia mungkin akan melahirkan
seorang putra jika kecelakaan itu tidak terjadi. Ia sangat
sedih, benar-benar terpukul atas kejadian itu.
Tetapi sepertinya kedukaan yang ia alami itu belumlah cukup.
Perusahaan tempat suaminya bekerja, menugaskan suaminya untuk
bekerja di bagian cabangnya di luar kota. Kemudian adik
perempuannya yang selalu berkunjung saat masa liburan datang,
tiba-tiba menghubunginya karena ia tidak dapat berkunjung
pada liburan kali ini.

Tidak cukup sampai di situ. Teman Sandra menasehatinya dengan
mengatakan bahwa segala kedukaan yang ia alami adalah jalan
Tuhan untuk mendewasakannya sehingga ia dapat bersikap lebih
tenggang rasa terhadap penderitaan orang lain.
"Ia tidak tahu apa yang aku rasakan." pikir Sandra dengan
lirih.

"Thanksgiving? Berterima kasih untuk apa?" pikirnya.
Untuk supir truk yang ceroboh, yang menyerempet mobilnya
dengan sangat keras? Untuk kantong udara penyelamat yang
menyelamatkan hidupnya, tetapi mengambil hidup bayinya?

"Selamat siang, bisa saya bantu?" Secara tiba-tiba Sandra
berhenti dari lamunannya.
"Aku.... membutuhkan persiapan untuk Thnaksgiving. " jawab
Sandra dengan gugup.
"Untuk Thanksgiving? Apakah kamu ingin suatu hal yang indah,
tetapi sederhana, ataukah kamu ingin menghadirkan situasi
yang berbeda seperti pilihan pelanggan di sini, yang kusebut
sebagai 'Thanksgiving isitimewa'?" tanya penjaga toko.

"Aku yakin bunga-bunga menceritakan sesuatu dalam kehidupanmu"
lanjutnya.
"Apakah kamu mencari sesuatu yang bisa menyampaikan rasa
terima kasihmu pada hari Thanksgiving ini?"
"Tidak juga" celetuk Sandra.
"Dalam lima bulan terakhir ini, semua yang terjadi benar-benar
menjadi sangat buruk".
Sandra menyesali ucapannya tadi dan ia sangat terkejut ketika
penjaga toko itu berkata,
"Aku telah mempersiapkan sesuatu untukmu di hari Thanksgiving
ini".

Pada saat itu, bel pintu toko berbunyi, dan penjaga toko
menyalami seorang pelanggan yang baru masuk.
"Hai, Barbara.... tunggu sebentar yah, aku ambilkan pesananmu."

Penjaga toko itu masuk ke dalam ...menuju ruang kerjanya,
kemudian muncul kembali sambil membawa berbagai macam
persiapan untuk Thanksgiving, seperti tanaman hijau,
pita-pita, dan tangkai bunga mawar duri yang panjang.
Anehnya, hanya tangkainya saja, tidak ada bunganya.
"Mau dimasukkan ke dalam kotak?" tanya penjaga toko.
Sandra mengamati reaksi pelanggan itu. Apakah ini hanya
lelucon? Siapa yang mau tangkai mawar tanpa bunganya!
Ia menunggu seseorang tertawa tetapi wanita itu tidak tertawa.
"Ya, tolong yah" jawab Barbara tersenyum.

"Aku kira setelah tiga tahun mengalami Thanksgiving yang
istimewa, aku tidak akan tersentuh dengan nilai Thanksgiving
ini, tetapi aku bisa merasakannya di sini."
Barbara berkata sambil menyentuh dadanya. Dan ia pergi dengan
pesanannya.
"Uh." gumam Sandra, "wanita itu telah pergi dengan... uh, ia
telah pergi tanpa bunga!"

"Baiklah," kata penjaga toko.
"Aku akan memotong bunga ini dari tangkainya.
Itulah Thanksgiving istimewa. Aku menyebutnya sebagai
'Karangan Bunga Berduri Thanksgiving' ."
"Ayolah kau tidak bisa menyebutkan siapa yang membayar untuk
tangkai bunga sepertu itu! seru Sandra.
"Barbara datang ke toko ini tiga tahun yang lalu dengan
perasaan yang sama seperti yang kau alami sekarang ini."
si penjaga toko menjelaskan.

"Ia berpikir tidak perlu banyak berterima kasih kepada Tuhan.
Ia telah kehilangan ayahnya karena penyakit kanker, bisnis
keluarganya juga sedang buruk, putranya terlibat dalam
masalah obat-obatan dan ia tengah menghadapi operasi
pembedahan yang sangat serius."

"Pada tahun yang sama, aku kehilangan suamiku," lanjut
si penjaga toko.
"Dan untuk pertama kalinya dalam kehidupanku, aku
menghabiskan liburan sendirian. Aku tidak memiliki anak,
suami, kerabat dekat, dan memiliki banyak utang."
"Jadi apa yang kau lakukan?" tanya Sandra.
"Aku belajar untuk berterima kasih atas segala penderitaanku. "
jawab penjaga toko itu dengan pelan.

"Dulu aku selalu bersyukur kepada Tuhan atas segala hal yang
baik dalam kehidupanku dan tidak pernah mempertanyakan
mengapa hal yang terbaik terjadi kepadaku. Tetapi, ketika hal
yang buruk menimpaku, aku mempertanyakan berbagai pertanyaan
kepada Tuhan, aku menyalahkan Tuhan, aku marah kepada Tuhan!
Aku membutuhkan waktu lama untuk mengerti dan mempelajari
bahwa saat-saat sulit dan penuh penderitaan sangatlah penting.
Saat kita menderita itulah, kita memperoleh kekuatan.
Aku selalu terlena dengan 'bunga kehidupanku, ternyata 'duri'
kehipuankulah yang memperlihatkan kepadaku keindahan dan
anugerah Tuhan. Kau tahu, dalam Alkitab tertulis bahwa Tuhan
selalu menghibur kita ketika kita menderita. Tuhan memberikan
kepada kita kekuatan, dan dari penghiburan- Nya lah kita
belajar untuk menghibur orang lain."

Sandra mulai berpikir tentang perkataan temannya yang mencoba
untuk menghiburnya.
"Aku rasa yang benar adala aku tidak perlu dihibur. Aku telah
kehilangan bayiku dan aku marah terhadap Tuhan."
Pada saat itu juga seseorang masuk ke dalam toko.
"Hey, Phil!" teriak penjaga toko kepada seorang pria.
"Istriku memintaku untuk mengambil pesanan Thanksgiving
istimewa. Dua belas tangkai duri!" canda Phil ketika
si penjaga toko menyerahkan sebuah bungkusan persiapan
Thanksgiving.
"Semuanya itu untuk istrimu?" tanya Sandra ragu.
"Apakah kau keberatan jika aku bertanya mengapa ia
menginginkan sesuatu seperti itu pada hari Thanksgiving? "
"Tidak.... bahkan aku sangat senang kau bertanya." jawab Phil.

"Empat tahun lalu, aku dan istriku hampir bercerai.
Setelah empat puluh tahun, kami berada dalam keadaan yang
kacau. Tetapi dengan kasih Tuhan dan bimbinganNya, kami
berhasil mengatasi masalah demi masalah. Tuhan telah
menyelamatkan pernikahan kami. Jenny inilah (sang penjaga
toko) yang mengatakan kepadaku bahwa ia menyimpan vas bunga
yang berisikan tangkai bunga mawar untuk mengingatkan
kepadanya apa yang ia pelajari dari saat-saat 'berduri'
dalam kehidupannya, dan itu sangat menolongku. Aku membawa
beberapa tangkai bunga mawar itu ke rumah. Lalu aku dan
istriku memutuskan untuk menamai setiap tangkai bunga dengan
masalah yang kami hadapai. Kami berusaha untuk mengerti
maksud dari masalah itu, dan ternyata 'duri-duri' yang kami
alami itu benar-benar memberikan kekuatan kepada kami.
Kami berterima kasih kepada Tuhan atas pelajaran dari
masalah itu."

Setelah Phil membayar penjaga toko itu, ia berkata kepada
Sandra,
"Aku sangat menyarankan agar kau mengambil yang istimewa."
"Aku tidak mengetahui apakah aku bisa bersyukur atas 'duri
kehidupanku' kata Sandra.
"Semua 'duri' itu masih sangat baru".
"Baiklah" jawab penjaga toko itu dengan hati-hati.
"Pengalamaanku telah menunjukkan kepadaku bahwa 'duri' dalam
kehidupan kita telah membuat 'bunga-bunga' kehidupan kita
lebih berharga. Kita menyimpan anugerah Tuhan lebih baik
selama kita berada dalam masalah dibandingkan dengan
saat-saat lain. Ingat, karena mahkota duri yang Yesus kenakan
itulah sehingga kita dapat mengalami kasihNya.
Jangan menyesali 'duri-duri' kehidupanmu.
'Duri-duri' kehidupanmu itulah yang membentukmu dan memberi
kekuatan."

Air mata mengalir deras di pipi Sandra. Untuk pertama kalinya
sejak kecelakaan itu, ia menghilangkan duka dan penyesalannya.
"Aku akan mengambil dua belas tangkai bunga berduri, tolong
yah..." ia berkata sambil terisak-isak.
"Baiklah, aku akan menyiapkan mereka dalam beberapa menit."
jawab penjaga toko itu dengan ramah.
"Terima kasih. Berapa semua biayanya?"
"Tidak ada. Tidak ada, yang ada hanya sebuah janji bahwa kau
akan mengijinkan Tuhan untuk menyembuhkan hatimu. Biarkan aku
membelikanmu barang persiapan untuk Thanksgiving istimewa
pertamamu."

Penjaga toko itu tersenyum dan menyerahkan sebuah kartu
kepada Sandra.
"Aku selipkan dalam barang-barang persiapan Thanksgiving,
tetapi mungkin kau ingin membacanya terlebih dahulu."

Di dalam kartu itu tertulis:
"Tuhanku, aku belum pernah bersyukur kepadaMu untuk semua 'duri'ku. Aku berterima kasih kepadaMu atas segala bunga kehidupan yang kuterima, tetapi belum pernah sekalipun aku berterima kasih untuk penderitaanku. Ajarilah aku untuk menanggung beban salibku dengan tabah, ajarilah aku untuk menghargai nilai yang terkandung dari setiap penderitaan atau 'duri' yang kuhadapi. Tunjukanlah kepadaku, bahwa lewat jalan yang sulit, menderita, dan jalan yang penuh dengan kerikil, setiap hari aku semakin bertambah dekat denganMu. Tunjukanlah kepadaku, ya Tuhan, lewat air mataku, warna pelangiMu yang sangat indah."help

1 komentar: